Iman dan sepedanya
30 October 2012
0
komentar
Teringat suatu
kisah pada saat duduk di bangku Sekolah dasar dulu. Ada seorang anak laki-laki
yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Sebut saja anak itu bernama Iman. Karena sayang yang begitu
besar, si orang tua melarang anaknya untuk bermain atau berlatih hal baru yang
mengandung resiko cukup besar. Si anak pun menurut saja. Tetapi, kalau hanya
bermain dengan teman, si orang tua selalu membolehkan.
Karena waktu
itu,usianya masih kecil, maka dia senang bermain dengan teman-teman sebayanya beramai-ramai.
Maklum, anak-anak kecil di desa kesibukannya sebagian besar adalah bermain,
keluar masuk hutan atau perkebunan. Setelah itu, mandi di sungai sepuasnya.
Maklum air sungai di desa masih sangat jernih dan bebas polusi. Pulang kalau
sudah sore hari, karena ada keharusan mengaji. Untuk makan siang, biasanya
anak-anak itu mencari buah-buahan di hutan kecil.
Kita kembali pada
si Iman. Karena orang tuanya melarang untuk melakukan hal yang beresiko, maka
ketika teman-temannya sedang asyik bermain dan mandi di sungai, dia pun hanya
melihat dan menunggu dari pinggir saja sambil
menjaga pakaian teman-temannya. Dia tidak berani karena orang tua tidak
memperbolehkan dia melakukan hal yang beresiko. Begitu juga ketika
teman-temannya beramai-ramai latihan sepeda milik salah seorang anak yang baru
dibelikan sepeda bekas. Semua teman-temannya berlatih sepeda itu dengan
semangat tinggi. Melihat teman-temannya berlatih sepeda, Iman ingin sekali ikut
latihan. “Enak ya kalau sudah bisa naik sepeda, bisa bermain ke tempat yang
lebih jauh dan lebih ramai.tidak hanya di kampung ini saja.” Pikir Iman di
dalam hati.
Iman pun memberanikan
diri minta dibelikan sepeda oleh orang tuanya. Orang tua Iman yang memang
sayang sekali terhadap Iman akhirnya menyetujui permintaan anak kesayangannya
tersebut. Pada suatu hari yang cerah, Iman pun sangat bergembira karena ayahnya
yang tadi pagi pamitan akan pergi ke pasar, ternyata pulang membawa sepeda baru.
Baca Selengkapnya ....
