Showing posts with label Belajar dari anak. Show all posts
Showing posts with label Belajar dari anak. Show all posts

Salma si Gadis Desa

Posted by Haliza Azwa 31 October 2012 0 komentar

   Gadis kecil itu setiap pagi datang ke rumahku.Dia membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci piring, Mencuci baju, menyapu, dan semua pekerjaan rumah yag tidak bisa terselesaikan oleh Ibu. Gadis itu bekerja dengan sangat cekatan. Usinya baru sepuluh tahun. Lima tahun lebih muda daripadaku. Sesama perempuan, kadang aku meras iri dengannya. Dia begitu cekatan mengerjakan pekerjaan rumah, pekerjaan seorang perempuan. Sementra aku, urusan pekerjaan rumah seolah menjadi hantu yang menakutkan. Tidak pekerjaan rumah yang ku suka. Kalau di rumah, kegiatanku hanya belajar, belajar, dan belajar. Sesekali membantu Ibu mengantarkan kerupuk ke warung-wraung langganan kami. Selebihnya, tugasku hanya belajar. Ibuku sudah kelihatan sangat senang, kalau aku di rumah dan belajar. Sementara kesibukan Ibu setelah selesai mengurus rumah adalah menjahit dan mengawasi beberapa tetangga menggoreng kerupuk. Iya, Ibu memang wiraswasta tulen. Menjahit, jualan krupuk, usaha memintal “siyet”, dan sebagainya. Dan gadis yang ku ceritakan tadi, dia seperti asisten Ibu. Setelah selesai dengan kegiatan rumah, dia ikut membungkus kerupuk yang sudah digoreng. Kadang juga disuruh Ibu untuk mengobras hasil jahitan. Begitulah, setiap hari gadis itu membantu di rumah kami. Jam enam sampai sekitar jam 12 siang.
            Gadis kecil itu tidak bersekolah. Orang tuanya adalah keluarga dengan ekonomi kurang mampu. Ayahnya hanya menjadi buruh tani yang tidak setiap hari mendapatkan pekerjaan. Sementara Ibunya, adalah seorang tukang “gelpok” yang mengambil sisa-sisa bulir padi pada saat panen. Namun sayangnya, orang tua gadis itu tidak mengizinkan anaknya untuk bersekolah, meskipun ada beberapa orang yang menawarkan untuk membiayainya bersekolah di sekolah dasar. Orang tuanya selalu beranggapan buat apa anak perempuan sekolah, ujung-ujungnya tetap kerja di dapur. Itulah anggapan yang melekat kuat di pola pikir masyarakat kami waktu itu, sehingga untuk menyekolahkan anak, apalgi perempuan perlu perjuangan luar biasa. 

Baca Selengkapnya ....

Iman dan sepedanya

Posted by Haliza Azwa 30 October 2012 0 komentar

Teringat suatu kisah pada saat duduk di bangku Sekolah dasar dulu. Ada seorang anak laki-laki yang sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Sebut saja anak  itu bernama Iman. Karena sayang yang begitu besar, si orang tua melarang anaknya untuk bermain atau berlatih hal baru yang mengandung resiko cukup besar. Si anak pun menurut saja. Tetapi, kalau hanya bermain dengan teman, si orang tua selalu membolehkan.
Karena waktu itu,usianya masih kecil, maka dia senang bermain dengan teman-teman sebayanya beramai-ramai. Maklum, anak-anak kecil di desa kesibukannya sebagian besar adalah bermain, keluar masuk hutan atau perkebunan. Setelah itu, mandi di sungai sepuasnya. Maklum air sungai di desa masih sangat jernih dan bebas polusi. Pulang kalau sudah sore hari, karena ada keharusan mengaji. Untuk makan siang, biasanya anak-anak itu mencari buah-buahan di hutan kecil.  
Kita kembali pada si Iman. Karena orang tuanya melarang untuk melakukan hal yang beresiko, maka ketika teman-temannya sedang asyik bermain dan mandi di sungai, dia pun hanya melihat dan  menunggu dari pinggir saja sambil menjaga pakaian teman-temannya. Dia tidak berani karena orang tua tidak memperbolehkan dia melakukan hal yang beresiko. Begitu juga ketika teman-temannya beramai-ramai latihan sepeda milik salah seorang anak yang baru dibelikan sepeda bekas. Semua teman-temannya berlatih sepeda itu dengan semangat tinggi. Melihat teman-temannya berlatih sepeda, Iman ingin sekali ikut latihan. “Enak ya kalau sudah bisa naik sepeda, bisa bermain ke tempat yang lebih jauh dan lebih ramai.tidak hanya di kampung ini saja.” Pikir Iman di dalam hati.
Iman pun memberanikan diri minta dibelikan sepeda oleh orang tuanya. Orang tua Iman yang memang sayang sekali terhadap Iman akhirnya menyetujui permintaan anak kesayangannya tersebut. Pada suatu hari yang cerah, Iman pun sangat bergembira karena ayahnya yang tadi pagi pamitan akan pergi ke pasar, ternyata pulang membawa sepeda baru.

Baca Selengkapnya ....

Belajar dari anak...

Posted by Haliza Azwa 16 October 2012 0 komentar

Bismillahirrahmanirrahiim…..
Suara itu terasa berat. Hampir seperti merengek…
Alhamdulillahi….(rabbil ‘alamin)-yang dikasih kurung hamper ga kedengeran-
Suara itu semakin berat….
Arrahma-(Nirrahiiim)
Suara yang keluar beriringan dengan suara serak yang kian berat…..
Maaliki yaumiddin….
(………..)
Lanjutan Alfatihah itu sudah tergantikan dengan sesenggukan….
Hmms…hms….hms…..

“Lho….kenapa tidak dilanjutkan tadi Alfatihahnya?”
Dengan bibir yang maju lima centi dan suara serak yang berat…”Bunda aja”.
Aku menahan diri untuk tertawa. Geli juga mendengar dan melihatnya. Ada bendungan air
mata yang siap tumpah. Ada rasa marah dan keinginan yang tak bisa segera terwujudkan…
(Ya Allah,semoga perjuangan seorang Ibu ini menjadi pemantik api kesadaran seorang insane
untuk selalu mendahulukan ketaatan pada RabbNya. Aku berdoa lirih dalam hati)
Tidak tega juga melihatnya seperti itu…kalau lagi asyik dengan permainannya, apalagi
permainan “menyetir mobil” tidak bisa diajak belajar apalagi mengaji.


Baca Selengkapnya ....
ricky pratama support eva's blog - Original design by Bamz | Copyright of Education Center.