Belajar dari anak (1)
07 October 2011
0
komentar
Pada suatu malam yang cerah, seorang anak berumur tiga tahun sedang bermain di rumah temannya. Anak itu bernama Fadli. Teman sepermainannya tentu seorang Balita pula, tetapi umurnya sedikit lebih tua. Namanya Mabrur. Mereka berdua asyik sekali bermain aneka macam permainan. Mulai berlarian, belajar membaca, main petak umpet, sampai balapan sepeda. Mereka sangat asyik bermain. Mereka tidak peduli waktu itu adalah malam hari. Mereka terlalu asyik, tidak mau diusik oleh apapun. Sampai ketika jam menunjuk angka sembilan ada suara berat mendekati mereka.
“Fadli, ayo pulang.”
“Aku tidak mau pulang Ayah. Aku disini saja. Aku masih ingin bermain.” Jawab Fadli kepada seseorang yang baru datang. Ternyata pemilik suara berat itu adalah Ayah Fadli.
“Tapi ini sudah malam, nak. Sudah waktunya tidur sekarang.”, Ayah Fadli mencoba merayu.
“Tidak. Aku masih belum Ngantuk. Aku masih ingin disini main sama kak Mabrur.”, Fadli berteriak ketika sang Ayah bergerak mendekatinya.
“Tapi, Nak. Kak Mabrur juga akan tidur secepatnya. Besok khan sekolah. Kamu juga khan besok sekolah.
Ayo kita pulang.”Sang Ayah terus merayu sambil mencoba mendekati Fadli. Fadli yang merasa hendak dipaksa pulang sang Ayah kemudian menangis sekencang-kencangnya sambil berteriak. “Nggak. Aku nggak mau pulang sekarang. Ayah saja yang pulang.”, dia berteriak sambil tangisnya makin kencang. Ketika tangis itu semakin kencang, sang teman yang sedari tadi diam saja menyaksikan percakapan anak dan Ayah itu berseru dengan nada tegas. “Pulang saja dulu sana. Kita khan sudah main sejak tadi.” Dia diam sejenak kemudian melanjutkan “Besok kita khan ketemu lagi di sekolah. Kita bisa main lagi besok. OK.”, tangannya sambil mengisyaratkan jempol pada sang teman kecil. “Nggak apa-apa. Ayo pulang dulu.”, Imbuhnya sambil mengisyaratkan agar Fadli mau pulang bersama sang Ayah. Ajaib. Setelah mendengar kata-kata itu, Tangis Fadli pun reda. Dia bersedia diajak pulang oleh ayahnya. Tanpa berkata-kata lagi diapun naik ke gendongan sang Ayah. Setelah berpamitan, kedua orang itu pun pulang. Dari kejadian tersebut, dapat kita renungkan bersama. Ternyata….seseorang itu kadang lebih mendengarkan kata teman atau sahabatnya dibandingkan orang tuanya sendiri. Bahkan seorang anak kecil yang masih ingin bermain bersama temannya, tidak mau diajak pulang orang tuanya, meskipun orang tua sudah membujuk dengan berbagai alasan. Dia baru mau pulang setelah temannya memintanya pulang dulu dan mengatakan bahwa besok mereka bisa bermain lagi. Bahkan ketika seorang anak telah beranjak besar hingga dewasa, pengaruh seorang teman sangat besar untuk kehidupannya. Anak bisa menjadi baik, jika dia berteman dengan anak yang baik pula, dan sebaliknya anak bisa menjadi tidak baik atau bahkan bisa menentang orang tua, karena pengaruh teman. Begitu eratnya ikatan pertemanan atau persahabatan. Karena keeratan itulah, Rasulullah SAW mengingatkan para orang tua untuk mencarikan teman yang terbaik untuk anaknya, memantau pergaulan anak, dan mencarikan lingkungan yang baik dan mendukung untuk tumbuh kembang anak secara baik dan optimal.
Ayo kita pulang.”Sang Ayah terus merayu sambil mencoba mendekati Fadli. Fadli yang merasa hendak dipaksa pulang sang Ayah kemudian menangis sekencang-kencangnya sambil berteriak. “Nggak. Aku nggak mau pulang sekarang. Ayah saja yang pulang.”, dia berteriak sambil tangisnya makin kencang. Ketika tangis itu semakin kencang, sang teman yang sedari tadi diam saja menyaksikan percakapan anak dan Ayah itu berseru dengan nada tegas. “Pulang saja dulu sana. Kita khan sudah main sejak tadi.” Dia diam sejenak kemudian melanjutkan “Besok kita khan ketemu lagi di sekolah. Kita bisa main lagi besok. OK.”, tangannya sambil mengisyaratkan jempol pada sang teman kecil. “Nggak apa-apa. Ayo pulang dulu.”, Imbuhnya sambil mengisyaratkan agar Fadli mau pulang bersama sang Ayah. Ajaib. Setelah mendengar kata-kata itu, Tangis Fadli pun reda. Dia bersedia diajak pulang oleh ayahnya. Tanpa berkata-kata lagi diapun naik ke gendongan sang Ayah. Setelah berpamitan, kedua orang itu pun pulang. Dari kejadian tersebut, dapat kita renungkan bersama. Ternyata….seseorang itu kadang lebih mendengarkan kata teman atau sahabatnya dibandingkan orang tuanya sendiri. Bahkan seorang anak kecil yang masih ingin bermain bersama temannya, tidak mau diajak pulang orang tuanya, meskipun orang tua sudah membujuk dengan berbagai alasan. Dia baru mau pulang setelah temannya memintanya pulang dulu dan mengatakan bahwa besok mereka bisa bermain lagi. Bahkan ketika seorang anak telah beranjak besar hingga dewasa, pengaruh seorang teman sangat besar untuk kehidupannya. Anak bisa menjadi baik, jika dia berteman dengan anak yang baik pula, dan sebaliknya anak bisa menjadi tidak baik atau bahkan bisa menentang orang tua, karena pengaruh teman. Begitu eratnya ikatan pertemanan atau persahabatan. Karena keeratan itulah, Rasulullah SAW mengingatkan para orang tua untuk mencarikan teman yang terbaik untuk anaknya, memantau pergaulan anak, dan mencarikan lingkungan yang baik dan mendukung untuk tumbuh kembang anak secara baik dan optimal.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Belajar dari anak (1)
Ditulis oleh Haliza Azwa
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://blogesemha.blogspot.com/2011/10/belajar-dari-anak-1.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Haliza Azwa
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Post a Comment