Belajar tentang mensyukuri Nikmat
12 June 2011
0
komentar
“Boleh lah mas 10 ribu. Masak kalung gitu aja 20 ribu?”, dia mencoba merayu si penjual kalung.
“Yah bu, masak 10 ribu. Ga ada kalung harga segitu sekarang?”, kata si penjual. “kalo sepuuh ribu, yang model kuno seperti ini.” Sang penjual menunjukkan kalung yang dimaksud.
“Aku ndak mau yang itu. Jelek. Aku maunya yang ini“, Kata seseorang yang datang bersama si penawar tadi. Air matanya pun siap-siap jatuh. “Sebentar toh, ini lagi tak tawar.”, kata si penawar.
“Lha terus bolehnya berapa mas?” tanya orang itu pada penjual kalung sambil berusaha menenangkan seseorang yang datang bersamanya tadi. “Boleh ya 10 ribu, saya hanya punya uang segitu”, imbuhnya.
Sambil sesekali memperhatikan putraku yang sedang bermain, aku tertarik juga memperhatikan dua orang tadi. Dua orang berbeda generasi. Generasi lama dan calon generasi baru. Dua orang dengan ekspresi wajah yang berbeda, yang satu tegang seolah-olah menggambarkan banyaknya persoalan hidup yang di hadapi, yang seorang lagi wajah mungil tanpa dosa yang sangat ingin memiliki segala ssuatu yang diinginya. Ya….itulah dua orang yang baru saja ku ceritakan. Seorang Nenek dan cucunya. Nenek itu sudah sangat tua, membawa keranjang yang sudah lusuh beserta beberapa makanan yang tampak dari luar. Dia ingin membelikan cucunya sebuah kalung karena si kecil sudah merengek sedari tadi. Akhirnya kata 15 ribu menjadi kesepakatan penjual dan sang nenek. Sambil menunggu selesainya kalung yang dipesan tadi, si nenek melihat kembali kondisi uangnya. Lima belas ribu……, ternyata uang itu sangat besar artinya buat sang nenek. Begitu juga dengan si cucu. Dia tidak bisa langsung membeli kalung dengan harga yang lebih dari itu. Si nenek berkali-kali mengganti pilihannya Subhanallah…..mereka menyadarkanku betapa aku adalah orang yang sering lupa untuk bersyukur, betapa Allah sudah memberikan segala yang terbaik untuk hidupku, tetapi aku belum mampu berbuat yang terbaik. Ternyata masih banyak orang di sekelilingku yang kehidupannya jauh lebih tidak beruntung dibandingkan aku. Betapa uang lima belas ribu yang biasanya begitu saja habis untuk jajan, teryata sangat berharga buat orang lain. Ya Allah terima kasih sudah mengirimkan mereka sebagai pelajaran dan penyadaran hidup yang sangat berharga. Semoga ke depan aku bisa menjadi manusia yang lebih bersyukur dan lebih bermanfaat. Amin.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Belajar tentang mensyukuri Nikmat
Ditulis oleh Haliza Azwa
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://blogesemha.blogspot.com/2011/06/belajar-tentang-mensyukuri-nikmat.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Haliza Azwa
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Post a Comment